Breaking News

Jejak Sejarah Luang dan Ujir: Kisah Patah Kemudi, Bawa Besi, dan Memori Leluhur yang Masih Hidup

Salah Satu Bukti Di Balik Sejarah Luang dan Desa Ujir

DOBO, LINTASMALUKUNEWS,-Hubungan sejarah antara masyarakat Luang, Maluku Barat Daya (MBD), dengan masyarakat Desa Ujir, Kecamatan Pulau-Pulau Aru, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku, diyakini telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu.

Kisah tersebut berawal dari sebuah peristiwa pelayaran ketika para leluhur dari Luang mengalami musibah patah kemudi dan terdampar di wilayah Pulau Ujir. Pertemuan dengan masyarakat asli Ujir kemudian melahirkan sebuah hubungan sejarah dan kekerabatan yang hingga kini masih tersimpan dalam memori kolektif masyarakat setempat.

Kisah sejarah itu diungkapkan salah satu keturunan Luang yang berdomisili di Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru, Thomas Anmama, setelah melakukan kunjungan ke Desa Ujir beberapa waktu lalu.

Menurut Anmama, para leluhur dari Luang pada masa lampau berlayar menggunakan perahu hingga tiba di sekitar Pulau Ujir. Namun, dalam perjalanan, mereka mengalami musibah berupa patahnya kemudi perahu.

Akibat peristiwa tersebut, mereka tidak dapat melanjutkan perjalanan dan akhirnya turun ke daratan untuk mencari tempat berlindung dan beristirahat.

“Orang tua-tua dari Luang berlayar sampai di Ujir dan mengalami musibah patah kemudi. Karena kecelakaan itu, mereka kemudian turun ke darat dan tinggal sementara di satu tempat,” tuturnya.

Saat berada di daratan, para pelaut dari Luang bertemu dengan masyarakat yang telah lebih dahulu mendiami Pulau Ujir.

Pertemuan tersebut kemudian menjadi awal dari sebuah kisah sejarah yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Pada saat itu, masyarakat setempat sedang menghadapi persoalan karena adanya seekor binatang yang kerap mengganggu kehidupan mereka.

Masyarakat Ujir telah berusaha membunuh binatang tersebut menggunakan peralatan yang mereka miliki. Namun, usaha tersebut belum berhasil.

Dalam kondisi itu, masyarakat setempat kemudian meminta bantuan kepada para pelaut dari Luang yang sedang berada di wilayah tersebut.

Dibuatlah sebuah kesepakatan. Apabila orang-orang Luang berhasil membunuh binatang tersebut, hasil buruan akan dibagi bersama.

Para leluhur Luang kemudian menggunakan senjata berupa panah yang ujungnya terbuat dari besi.

Dengan senjata tersebut, binatang yang selama ini mengganggu masyarakat akhirnya berhasil dibunuh.

Peristiwa itu kemudian menjadi bagian penting dalam sejarah hubungan antara Luang dan Ujir.

Menurutnya, masyarakat setempat kemudian mengakui bahwa orang-orang Luang merupakan pihak yang membawa besi ke wilayah tersebut.

Dari situlah kemudian muncul sebutan “Luang Bawa Besi”, yang hingga kini masih dikenang dan dikaitkan dengan sejumlah keturunan serta marga yang berada di Desa Ujir.

“Orang pertama yang membawa besi di Pulau Ujir adalah orang Luang. Karena itu disebut Luang Bawa Besi. Keturunannya masih ada sampai sekarang, termasuk dalam marga Baubesi dan Hatala,” jelasnya.

Hasil Buruan Dibagi, Taring Menjadi Jejak Sejarah Setelah binatang tersebut berhasil dibunuh, hasilnya kemudian dibagi antara para pelaut Luang dan masyarakat asli Ujir.

Dalam cerita yang diwariskan, orang-orang Luang yang berhasil membunuh binatang tersebut memperoleh satu bagian, sementara masyarakat asli yang telah lebih dahulu tinggal di Pulau Ujir mendapatkan bagian lainnya.

Setelah daging binatang tersebut dikonsumsi, taringnya kemudian ditanam di lokasi tersebut.

Taring itu diyakini menjadi salah satu peninggalan penting dari peristiwa sejarah yang menghubungkan masyarakat Luang dengan Ujir.

Namun, seiring berjalannya waktu, taring tersebut kemudian ditemukan oleh seorang peneliti berkebangsaan Amerika yang melakukan penelitian di wilayah Kepulauan Aru.

Menurut Anmama, peneliti tersebut kemudian meminta izin kepada pihak keluarga atau keturunan yang dianggap memiliki hubungan dengan lokasi tersebut untuk membawa taring itu.

Karena masyarakat Ujir saat ini mayoritas beragama Islam dan menganggap taring tersebut berasal dari binatang yang haram dikonsumsi, benda itu kemudian diberikan.

Anmama menilai, keputusan tersebut sebenarnya membuat salah satu bukti sejarah penting dari hubungan Luang dan Ujir hilang dari wilayah tersebut.

“Padahal, taring itu sebenarnya dapat menjadi salah satu bukti sejarah yang bisa disimpan dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.

Bukti Sejarah Masih Tersimpan di Lokasi

Meski salah satu peninggalan penting tersebut telah dibawa keluar, Thomas menyebutkan bahwa masih terdapat sejumlah jejak yang diyakini berkaitan dengan keberadaan para leluhur Luang di wilayah Ujir.

Salah satunya adalah peninggalan perahu yang menurut cerita masyarakat setempat masih berada di lokasi tersebut dalam bentuk kulibia atau rauna, istilah yang dikenal dalam bahasa masyarakat Babar.

Selain itu, terdapat pula sebuah rumpun bambu yang diyakini berasal dari tokong atau bambu yang pernah digunakan oleh para leluhur Luang.

Bambu tersebut kemudian ditanam di lokasi dan tumbuh menjadi satu rumpun yang hingga kini masih dapat ditemukan.

Di sekitar lokasi itu juga terdapat sumur yang diyakini digali oleh para leluhur Luang untuk memenuhi kebutuhan air selama berada di wilayah tersebut.

Bagi Anmama, keberadaan berbagai jejak tersebut menjadi alasan penting untuk melakukan pelestarian dan penelitian lebih lanjut.

Ia kemudian berkomunikasi dengan keluarga-keluarga di Desa Ujir yang memiliki hubungan dengan kisah tersebut.

Dalam kunjungannya, Anmama juga bersama pemerhati budaya Aru, Sony Jonler, untuk mendengarkan langsung cerita dari keluarga-keluarga yang memiliki hubungan dengan sejarah tersebut.

“Kami datang untuk mendengar langsung dari keluarga-keluarga yang memiliki hubungan dengan cerita ini. Mereka membenarkan bahwa kisah tersebut memang masih tersimpan dan diwariskan,” ungkapnya.

Wilan Dabata dan Jakalar, Nama yang Menjadi Penanda Sejarah

Sementara itu, pemerhati budaya Aru, Sony Jonler, mengatakan bahwa kisah hubungan antara Luang dan Ujir merupakan cerita sejarah yang sangat menarik dan penting untuk diwariskan kepada generasi muda.

Menurutnya, hubungan antarmasyarakat di Kepulauan Aru dengan berbagai wilayah di sekitarnya telah berlangsung jauh sebelum Indonesia merdeka.

Masyarakat Aru saat ini, kata Sony, merupakan masyarakat multikultural yang memiliki hubungan sejarah dan kekerabatan dengan berbagai wilayah, termasuk Kepulauan Kei, Tanimbar, Maluku Barat Daya, bahkan wilayah-wilayah lainnya.

“Hubungan kekerabatan antara masyarakat Aru dengan pulau-pulau di sekitarnya sudah berlangsung ratusan tahun. Jadi, masyarakat Aru yang modern sekarang ini sebenarnya memiliki sejarah hubungan yang sangat panjang,” ujarnya.

Menurutnya, kisah Luang dan Ujir menjadi menarik karena masih tersimpan dalam memori kolektif masyarakat Ujir, khususnya marga Baubesi.

Bahkan, masyarakat tersebut mengidentifikasi diri sebagai Luang Baubesi, yang menunjukkan adanya hubungan langsung dengan masyarakat Luang di Maluku Barat Daya.

Sony juga menyebut adanya istilah lokal “Wilan Dabata” yang berkaitan dengan peristiwa patahnya kemudi perahu para leluhur Luang.

Menurutnya, keberadaan istilah tersebut memiliki nilai penting dalam kajian antropologi dan sejarah.

“Kalau sebuah istilah lokal masih digunakan dan diwariskan oleh masyarakat, berarti istilah itu sudah menyatu dengan pengetahuan mereka. Kalau kita menyebutnya patah kemudi dalam bahasa Indonesia, istilah itu bisa saja dibuat. Tetapi ketika ada istilah lokal seperti Wilan Dabata, itu menunjukkan bahwa peristiwa tersebut telah menjadi bagian dari pengetahuan masyarakat,” jelasnya.

Setelah mengalami patah kemudi, para leluhur Luang kemudian harus menjaga layar perahu agar tetap aman dan tidak terbalik.

Peristiwa menjaga layar itu kemudian diyakini berkaitan dengan nama sebuah tempat yang hingga kini dikenal sebagai Jakalar.

Lokasi tersebut berada di sekitar pesisir barat Pulau Ujir, tidak jauh dari Desa Ujir.

Menurut Jonler, tempat tersebut diperkirakan berjarak sekitar satu kilometer dari Desa Ujir dan menjadi lokasi yang diyakini pernah menjadi tempat mendarat atau persinggahan para leluhur Luang.

“Tempat itu kemudian dikenal sebagai Jakalar. Nama tersebut menjadi pengingat atas peristiwa yang pernah terjadi di sana,” tuturnya.

Jejak Leluhur yang Masih Dipertahankan

Jonler menilai, nama tempat seperti Jakalar tidak dapat dipisahkan dari sejarah masyarakat setempat.

Sebab, nama tersebut telah menyatu dengan kehidupan masyarakat dan menjadi bagian dari ingatan kolektif.

Di lokasi itu, menurut cerita masyarakat, masih terdapat sejumlah peninggalan yang diyakini berkaitan dengan keberadaan para leluhur Luang.

Di antaranya tempat yang dahulu digunakan untuk memasak dan mencuci, rumpun bambu yang diyakini berasal dari tokong yang ditanam, serta sumur yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Selain itu, terdapat pula cerita mengenai taring babi yang pernah ditemukan oleh seorang arkeolog atau peneliti berkebangsaan Amerika Serikat bernama Dr. Joss Whittaker.

Jonler mengaku mengenal peneliti tersebut dan masih berupaya melakukan komunikasi untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai keberadaan benda tersebut.

“Saya memang mengenal Joswai dan pernah melakukan kontak, tetapi belum ada konfirmasi lebih lanjut mengenai taring tersebut. Diperkirakan benda itu dibawa sekitar tahun 2014 atau 2015,” katanya.

Namun, menurut Jonler, terlepas dari keberadaan taring tersebut, cerita dan bukti sejarah lainnya masih ada hingga saat ini.

Bagi masyarakat Ujir, kisah itu tetap menjadi bagian dari memori kolektif yang diwariskan dari para leluhur.

Bukan Sekadar Cerita, Ada Jejak Sejarah di Lapangan

Jonler menegaskan bahwa kisah hubungan antara Luang dan Ujir tidak dapat begitu saja dianggap sebagai cerita yang dibuat-buat.

Menurutnya, terdapat sejumlah fakta dan jejak di lapangan yang mendukung cerita tersebut.

“Ini bukan cerita yang bisa langsung kita katakan sebagai karangan. Ada bukti-bukti dan fakta di lapangan yang menunjukkan bahwa peristiwa tersebut pernah terjadi,” tegasnya.

Ia menjelaskan, dari perspektif sejarah dan antropologi, nama tempat, istilah lokal, cerita masyarakat, serta peninggalan fisik merupakan bagian penting yang harus dikaji secara serius.

Peristiwa tersebut, lanjutnya, dapat dikenal melalui dua istilah penting, yakni Wilan Dabata yang berkaitan dengan peristiwa patah kemudi dan Jakalar yang berkaitan dengan peristiwa menjaga layar.

Kedua istilah itu menjadi bagian dari jejak sejarah yang masih hidup dalam masyarakat Ujir.

Rencana Mendirikan Monumen Sejarah

Thomas Anmama berharap lokasi yang diyakini memiliki hubungan dengan sejarah Luang dan Ujir dapat dilestarikan.

Ia bahkan berencana membangun komunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru, khususnya melalui bidang pendidikan dan kebudayaan, agar kisah tersebut dapat didokumentasikan dan dikembangkan menjadi bagian dari sejarah budaya daerah.

Salah satu gagasan yang muncul adalah pembangunan sebuah monumen di lokasi tersebut.

Monumen itu diharapkan dapat menjadi penanda sejarah bahwa pernah terjadi sebuah peristiwa yang menghubungkan masyarakat Luang dari Maluku Barat Daya dengan masyarakat Ujir di Kepulauan Aru.

“Harapannya, wilayah itu harus dilestarikan. Ke depan, bersama pemerintah daerah, khususnya bidang pendidikan dan kebudayaan, cerita ini bisa dihidupkan melalui pembangunan sebuah monumen,” kata Anmama.

Monumen tersebut nantinya diharapkan dapat menjadi tempat bagi masyarakat, keturunan Luang, keluarga Baubesi, generasi muda, peneliti, budayawan dan siapa saja yang memiliki hubungan dengan sejarah tersebut untuk datang dan melihat langsung jejak peninggalan leluhur.

Menjaga Warisan Sejarah untuk Generasi Mendatang

Kisah hubungan antara Luang dan Ujir menunjukkan bahwa sejarah masyarakat Maluku tidak hanya tersimpan dalam dokumen tertulis.

Sebagian sejarah hidup dalam nama tempat, nama marga, bahasa lokal, cerita para tetua, peninggalan benda, sumur tua, rumpun bambu dan ingatan kolektif masyarakat.

Karena itu, pelestarian terhadap lokasi yang diyakini menjadi bagian dari sejarah tersebut menjadi sangat penting.

Bagi Anmama, sejarah itu harus terus dihidupkan agar tidak hilang bersama perubahan zaman.

Sementara bagi Sony Jonler, kisah tersebut menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat Aru yang perlu dikaji lebih dalam dan diperkenalkan kepada generasi muda.

Sebab, di balik sebuah peristiwa patah kemudi, tersimpan kisah panjang tentang perjalanan leluhur, pertemuan dua masyarakat, hubungan kekerabatan, pertukaran budaya dan sejarah maritim antarpulau yang telah berlangsung ratusan tahun.

Kisah tersebut diungkapkan pada Jumat (24/7/2026) di Dobo.

Namun, tulisan ini masih terbuka untuk penyempurnaan. Jika terdapat basudara dari Luang maupun pihak lain di mana pun berada yang mengetahui lebih banyak tentang kisah sejarah tersebut, diharapkan dapat memberikan tambahan informasi, sehingga cerita ini dapat disempurnakan dan menjadi dokumentasi sejarah yang lebih lengkap bagi generasi mendatang.

Sumber:
Tom Anmama Anggota DPRD Kepulauan Aru & Soni Jonler
© Copyright 2022 - LINTAS MALUKU NEWS